Senin, 08 Maret 2010

Kemana Rakyat Harus Mengadu...??



IBARAT anak ayam kehilangan induk, itulah yang kini dialami rakyat Indonesia. Pemerintah pusat maupun daerah sepertinya lebih disibukkan mengurus berbagai perkara politik dan abai mengurus persoalan-persoalan nyata masyarakat.
Terlalu banyak contoh untuk menyebut betapa rakyat seperti anak yatim piatu, anak kecil tak berdaya tanpa pengasuh.

Tengoklah betapa lambannya pemerintah menangani berbagai peristiwa bencana alam yang menimpa rakyat ini.

Pemerintah rupanya tidak hanya abai menangani persoalan insidental seperti bencana, tetapi juga abai mengatasi persoalan-persoalan permanen, seperti perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, buruknya pelayanan kesehatan untuk rakyat, serta pengendalian laju pertumbuhan penduduk.

Berdasarkan data statistik resmi pemerintah, saat ini jumlah TKI yang bekerja di luar negeri mencapai 6 juta orang, 70% di antaranya adalah wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mereka inilah yang seringkali menjadi sasaran tindak kekerasan dan sudah pasti sangat membutuhkan perlindungan pemerintah, namun mereka tidak mendapatkannya.

Padahal, pada 2009, TKI merupakan penyumbang devisa sebesar Rp162 triliun kepada negara. Itu artinya, pemerintah bersemangat menerima devisa dari para TKI itu, tetapi bersikap setengah-setengah melindungi mereka.

Belakangan ini rakyat makin kencang berteriak menuntut keadilan. Keadilan agar hak mereka yang seharusnya diberikan oleh orang-orang yang punya kuasa mereka dapatkan. Gaji buruh pabrik yang tidak dibayarkan. ganti rugi lahan atas proyek pembangunan mall atau daerah rekreasi. Hak akses berjualan di tempat-tempat yang semesetinya sudah disiapkan oleh pihak-pihak yang berkewajiban. Dan masih banyak lagi tuntutan hak yang dilakukan masyarakat.

Akan tetapi disetiap penuntutan itu, jarang sekali yang berbuah keberhasil. Bahkan yang ada adalah penganiayaan dan ancaman dari berbagai pihak termasuk aparat pemerintah. Sungguh respon yang menyakitkan. Ketika masyarakat meminta keadilan kepadanya, malah ditanggapi dengan tawa kesombongan dan pengusiran.

Rakyat memang lemah dan karena itulah mereka mempercayakan urusannya kepada aparat pemerintah, agara posisi mereka yang lemah dapat dikuatkan. Rakyat memang bodoh dan tak sanggup menghadapi kelicikan penguasa-penguasa itu, dan untuk itulah rakyat memberikan amanah kepada aparat pemerintah yang pintar untuk membela rakyat yang bodoh itu. Bukan untuk dibodohi.

Rakyat sangat mengharapkan keadilan dari mereka yang berkuasa. Sudah menjadi kewajiban dan wewenang para penguasa untuk memberikan hak orang lemah dan menarik kewajiban orang-orang kuat. Janganlah Anda menghamba kepada dunia. Karena dunia ini hanya sebentar dan persinggahan.

Teringat pidato pertama khalifaturrasul Umar ibnu Khattab ra. ” orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan di mataku adalah lemah, sampai kuambil kewajiban atasnya. Dan orang-orang lemah adalah kuat di mataku sampai kuberikan haknya atas mereka”, begitulah kira-kira kutipan dari pidato beliau.

Akan tetapi Nampak sekali bahwa pemandangan dari pidato Umar ra tersebut adalah suatu kejadian langka saat ini di muka bumi. Terutama di negeri dengan pemeluk Islam terbesar di dunia ini. Lihat saja tingkah laku pemerintah negeri ini. Dengan santainya seorang kepala daerah menampakkan senyuman sinis dan meremehkan serta bersikap acuh tak acuh ketika seorang warganya yang mewakili sekelompok masyarakat berbicara kepadanya untuk menuntut keadilan.

Lalu kemana lagi rakyat akan mengadu….??

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan anda berkomentar mengenai tulisan artikel kami yang telah anda baca, dengan menjaga sikap saling hormat-menghormati serta menghargai komentar dan pendapat orang lain....terima kasih....!